Wednesday, December 21, 2005

ANALISA PENGARUH NILAI PERMINTAAN TERHADAP PENINGKATAN KEUNTUNGAN PENDAPATAN PRODUKSI DAN PERDAGANGAN PT.SICPA PURINDO DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

PT.SICPA Purindo merupakan suatu perusahaan swasta asing yang didirikan di Indonesia sejak 31 Januari 1995. PT.SICPA Purindo merupakan Perusahaan representative dari prinsipal utama SICPA Group internasional yang berkantor pusat di Prilly Swiss kawasan benua Eropa. PT.SICPA Purindo di Indonesia mempunyai dua lokasi kantor dan pabrik yaitu di kawasan Tangerang sebagai Kantor Pusat dan di kawasan Karawang sebagai Kantor Cabang. PT.SICPA Purindo termasuk dalam SICPA Group mempunyai kawasan produksi dan perdagangan secara internasional dan tersebar di 35 negara benua Eropa, Amerika, Afrika, Australia dan di Asia seperti antara lain India, China, Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia.

PT.SICPA Purindo bergerak di bidang manufacturing dan perdagangan komoditas barang utama berupa produk ‘security ink’ untuk pembuatan uang kertas (banknotes) dan dokumen atau surat-surat berharga (value documents) termasuk sertifikat produk bank, passport dan lain-lain dokumen berharga. Selain produk ‘security ink’ PT.SICPA Purindo juga sebagai produsen utama untuk ‘printing ink’ berwarna untuk kemasan, label dan pencetakan tinta warna untuk produk-produk atau barang-barang terkenal seperti untuk majalah, rokok, alat-alat kosmetik kecantikan, pinsil berwarna, produk makanan dan lain sebagainya yang bertaraf internasional.

PT.SICPA Purindo Indonesia sejak Januari tahun 2004 melakukan kerjasama dengan Perum Peruri Indonesia dengan nama PT.SICPA Peruri Securink dalam bidang produksi atau pembuatan dan perdagangan ‘security ink’ untuk pencetakan uang Negara Indonesia serta beroperasi secara komersial sejak tahun 1996. Dalam melakukan bisnis memproduksi ‘security ink’, PT.SICPA Purindo sangat memerlukan bahan baku impor untuk menjaga kualitas produksi, sehingga biaya operasional disamping membutuhkan uang dalam bentuk Rupiah juga memerlukan uang kertas atau mata uang asing dalam bentuk USD Dollar. Keuntungan dan atau kerugian pendapatan perusahaan sangat dipengaruhi oleh melemahnya atau meningkatnya nilai tukar atau kurs mata uang Rupiah terhadap USD Dollar.

Dalam makalah ini akan dianalisa seberapa besar pengaruh nilai tukar uang rupiah terhadap USD Dollar dalam meraih atau menentukan keuntungan pendapatan dengan perhitungan skala tahunan yaitu di tahun 2003 dan tahun 2004 serta forcasting atau peramalan keuntungan pendapatan di tahun 2005.

I.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas dalam menjalankan proses untuk meraih gelar sarjana strata dua Magister Manajemen di Universitas Muhammadyah Jakarta (UMJ). Adapun tujuannya untuk lebih memperdalam cara menganalisa suatu permasalahan dengan memperhitungkan faktor-faktor manajemen internal dan ekternal serta hubungannya dengan teori-teori manajemen seperti teori permintaan, teknik optimasi, estimasi, forcasting, produksi, estimasi dan pengambilan keputusan.

I.3. PEMBATASAN MASALAH

Analisa pembahasan masalah di dalam makalah ini berupa analisa kuantitatif dengan mengkaji data-data dari PT. SICPA Purindo yang meliputi data hasil keuntungan pendapatan, nilai dari hasil penjualan produk, dan biaya operasional. Pembahasan dikaitkan dengan teori-teori dasar manajemen seperti teori permintaan, teknik optimasi, estimasi, forcasting, produksi, estimasi dan pengambilan keputusan dengan memeperhitungkan faktor terutama eksternal seperti permintaan produk dan ketergantungan terhadap bahan baku impor serta nilai tukar Rupiah terhadap USD Dollar. Berdasar analisa pembahasan permasalahan yang dihadapi perusahaan PT. SICPA Purindo tersebut maka di dalam makalah ini akan pembahasan masalah dibatasi dalam analisa pengaruh nilai permintaan produk terhadap peningkatan keuntungan pendapatan produksi dan perdagangan PT.SICPA Purindo di Indonesia.

II. TEORI – TEORI DASAR MANAJEMEN

  1. Teori Teknik Optimisasi

Hubungan ekonomi dapat digambarkan dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik, untuk hubungan yang rumit dapat menggunakan persamaan matematika deferensial atau kalkulus. Sebagai contoh hubungan antara penerimaan total (TR-Total Revenue) dengan kuantitas (Q- Quantity) barang atau jasa yang dijual perusahaan pada waktu tertentu missal satu tahun dapat digambarkan dengan persamaan :

TR = 100Q – 10Q²

Analisis optimasi dapat dipelajari dalam proses perusahaan menentukan tingkat output yang memaksimumkan laba total dengan memeperhitungkan total penerimaan dan biaya total yang terjadi dalam perusahaan. Optimisasi dengan analisis marginal merupakan suatu konsep terpenting pada ekonomi manajerial. Perusahaan memaksimumkan laba bila pendapatan marginal sama dengan biaya marginal

  1. Teori Permintaan

Permintaan atau demand konsumen merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam ekonomi manajerial, karena suatu perusahaan tidak akan pernah ada dan berkembang dengan pesat jika permintaan terhadap produknya tidak ada. Suatu perusahaan dengan teknik produksi yang handal menggunakan teknologi yang tinggi (hitech) namun di dalam penjualan atau pemsaran produknya tidak ada permintaan dari konsumen baik secara invidual maupun secara pasar, maka perusahaan ini dalam jangka panjang tidak akan bertahan hidup untuk menutupi biaya produksi dan biaya operasional. Produksi suatu barang dapat dipasarkan dan dapat di jual dengan hasil keuntungan yang besar atau tinggi bila permintaan terhadap produksi tersebut sangat tinggi. Dalam hal ini suatu permintaan akan produksi barang tersebut akan sangat menentukan ketahanan hidup dan atau kelangsungan perusahaan dalam menjalankan bisnis dan memasarkan produksinya.

Permintaan terhadap suatu komoditas barang yang dihadapi perusahaan bergantung pada ukuran atau jumlah dari total permintaan pasar atau industri terhadap komoditas barang tersebut. Selanjutnya permintaan tersebut merupakan jumlah dari seluruh permintaan konsumen individual terhadap komoditas barang tersebut di dalam suatu pasar.

Teori permintaan konsumen (consumer demand theory) adalah jumlah suatu komoditas barang yang diminta merupakan suatu fungsi dari atau bergantung pada harga komoditas barang tersebut, pendapatan konsumen, harga komoditas yang berhubungan (komplementer atau substitusi) dan selera konsumen, yang dalam bentuk fungsi diformulasikan dengan :

Qdx = f (Px, I, Py, T) dimana ,

Qdx = kuantitas komoditas X yang diminta oleh individu per periode waktu (tahun, bulan, minggu, hari atau satuan unit waktu lainnya)

Px = harga per unit komoditas X

I = pendapatan konsumen

Py = harga komoditas yang berhubungan (substitusi atau komplementer)

T = selera konsumen.

Cerminan terhadap teorema diatas didalam suatu penjualan komoditas barang sebagai contoh adalah apabila suatu perusahaan menaikkan harga komoditas barang maka yang terjadi di pasaran adalah permintaan terhadap komoditas barang tersebut akan menurun atau jumlah penjualan akan menurun. Sebaliknya apabila perusahaan menurunkan harga terhadap komoditas barang tersebut maka dipasaran akan terjadi peningkatan permintaan atau kuantitas barang yang dijual meningkat. Dengan demikian hubungan antara kuantitas barang dengan harga merupakan hubungan terbalik yaitu pada saat harga meningkat, jumlah atau kuantitas barang menurun dan apabila harga menurun jumlah atau kuantitas barang yang dibeli menjadi meningkat.

Kuantitas suatu komoditas barang yang diminta oleh individual juga bergantung pada pendapatan konsumen, apabila pendapatan konsumen meningkat maka permintaan terhadap produk atau komoditas barang juga akan meningkat. Demikian sebaliknya apabila pendapatan konsumen menurun atau daya beli konsumen menurun maka terjadi juga pada kuantitas barang akan menurun sehingga permintaan terhadap barang tersebut juga menurun.

Pada faktor lain jumlah atau kuantitas komoditas barang juga akan meningkat atau menurun bergantung pada harga komoditas yang berhubungan. Konsumen individual akan memebeli suatu komoditas barang tertentu jika harga komoditas barang tersebut substitusinya meningkat atau jika harga harga komoditas barang tersebut komplementernya menurun.

Pada sisi lain jumlah atau kuantitas komoditas barang juga bergantung pada selera konsumen, hal ini tercermin pada kondisi saat ini dimana pembelian suatu produk atau komoditas barang tergantung selera konsumen dilihat dari kualitas barang murah atau mahal, sehingga terciptalah produk barang yang yang sama namun dengan kualitas yang berbeda tingkatannya dan selanjutnya harga jual produk tersebut juga berbeda ada yang lebih murah dan yang lebih mahal. Kuantitas permintaan terhadap produk tersebut menjadi bergantung selera atau kemampuan konsumen individual dalam menentukan pembelian produk tersebut dan pada akhirnya akan memepengaruhi jumlah permintaan terhadap produk tersebut.

Selanjutnya pada perkembangnya dalam suatu teori permintaan yang semula memperhitungkan terhadap permintaan konsumen invidual namun bila diperhitungkan terhadap banyaknya permintaan per periode atau per satuan waktu tertentu. (Qdx) dan dalam jumlah yang besar serta skala permintaan dari berbagai konsumen yang tingkatan yang lebih besar maka permintaan individual konsumen berubah menjadi permintaan pasar.

  1. Pengambilan Keputusan

Pengklasifikasian keadaan yang menuntut keputusan terprogram dan keadaan yang menuntut keputusan tak terprogram bermanfaat bagi perusahaan dalam penyelesaian masalah. Keputusan terprogram digunakan untuk menghadapi masalah-masalah yang rumit maupun tidak rumit. Jika suatu masalah terjadi lagi dan jika unsur-unsur komponennya dapat ditentukan, diramalkan, dan dianalisis, maka masalah tersebut dapat dipecahkan dengan pengambilan keputusan terprogram, misal keputusan tentang berapa banyak persediaan yang harus dipertahankan untuk produk tertentu, menentukan anggaran iklan maksimum untuk setiap produk dan sebagainya. Teknik keputusan untuk memecahkan masalah yang luar biasa yang memerlukan perlakukan khusus , ditangani dengan suatu keputusan tidak terprogram, misalnya bagaimana menangani lini produk yang gagal, alokasi sumber daya perusahaan dan sebagainya.

Maksud dan tujuan didirikannya perusahaan adalah untuk memaksimumkan aset atau nilai perusahaan. Dalam rangka mewujudkannya perusahaan menghadapi banyak kendala. Beberapa kendala timbul dari terbatasnya input-input sumber daya yang dimiliki perusahaan, misalnya ketidakmampuan menyewa tenaga ahli yang dibutuhkan, ketidakmampuan memperoleh semua bahan baku, ketidakpastian hukum dan lain sebagainya. Sehingga perusahaan dituntut untuk mengatasi masalah-masalah tersebut agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut perangkat matematika dan ekonometrika dapat dijadikan alat bantu bagi manajer untuk membentuk dan mengestimasikan model keputusan agar perusahaan mampu mencapai tujuan dengan cara yang paling efisien. Secara spesifik matematika ekonomi dipergunakan untuk menggambarkan dalam bentuk persamaan sebagai model ekonomi. Sedangkan Ekonometrika berfungsi sebagai alat uji statistik pada data dunia nyata untuk mengestimasi model yang dipostulatkan oleh teori ekonomi dan untuk peramalan. Sebagai contoh, teori ekonomi mempostulatkan bahwa jumlah yang diminta (Q) untuk suatu komoditi adalah fungsi atau tergantung kepada harga komoditi tersebut (P), pendapatan konsumen (Y), dan harga komoditi lain yang berhubungan (komoditi subtitusi dan komplementer) adalah Pc dan Ps. Bila diasumsikan bahwa selera tidak berubah, maka kondisi tersebut dapat dipostulatkan ke dalam model matematika sebagai berikut:

Q = f (P, Y, Pc, Ps)

Dengan mengumpulkan data Q, P, Y, Pc dan Ps untuk komoditi tertenu, kita dapat mengestimasikan hubungan empiris (ekonometrik). Yang pada akhirnya dapat memberikan informasi kepada perusahaan seberapa besar Q yang berubah dengan adanya perubahan dalam P, Y, Pc, dan Ps serta untuk meramalkan permintaan di masa mendatang untuk komoditi tersebut.

Analisa dari kekuatan atau variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan dan estimasi yang dapat dipercaya terhadap penjualan adalah sangat penting bagi perusahaan untuk membuat keputusan produksi yang terbaik. Beberapa dari kekuatan yang mempengaruhi permintaan dapat dikontrol oleh perusahaan dan tidak dapat dikontrol perusahaan. Perusahaan dapat memperkirakan elastisitas permintaan terhadap semua kekuatan yang mempengaruhi permintaan komoditi yang mereka jual. Perusahaan memerlukan estimasi terhadap berbagai elastisitas untuk menentukan kebijakan optimal bagi proses operasionalnya dan jalan yang paling efektif untuk merespon berbagai kebijakan terhadap harga.

Elastisitas dari penjualan perusahaan terhadap variable-variable yang berada di luar kontrol perusahaan juga sangat penting bagi perusahaan agar dapat merespon kebijakan harga produk pesaing. Perusahaan dapat juga menggunakan elastisitas ini untuk meramalkan permintaan di masa mendatang. Sebagai contoh suatu perusahaan memasarkan produk “c” dan mengestimasi regresi dari permintaan akan produk “c” sbb:

Qc = 1,5 – 3,0Pc + 0,8 I + 2,0Py – 0,6 Ps + 1,2 A

Dimana;

Qc = penjualan produk c, jutaan per tahun

Pc = harga produk c

I = pendapatan

Py = harga produk c pesaing

Ps = harga barang komplementer

A = pengeluaran iklan untuk produk c

Jika pada tahun ini Pc = 2, I = 2,5 . Py = 1,8 , Ps = 0,5 dan A = 1 maka jumlah produk c yang akan dijual sebesar:

Qc = 1,5 – 3(2) + 0,8 (2,5) + 2 (1,8) – 0,6 (0,5) + 1,2 (1) = 2

Sehingga pada tahun ini perusahaan akan menjual 2 juta produk c. Informasi ini dapat digunakan perusahaan untuk mengukur elastisitas permintaan dari produk c terhadap harga, pendapatan, harga kopi, pesaing, harga barang komplementer, dan iklan sbb;

E p = -3 (2/2) = -3

E i = 0,8 (2,5/2) = 1

Ecy = 2 (1,8/2) = 1,8

Ecs = 0,6 (0.5/2) = - 0,15

Ea = 1,2(1/2) = 0,6

Perusahaan dapat menggunakan beberapa elastisitas ini untuk meramalkan permintaan produk c pada tahun yang akan datang. Sebagai contoh; tahun depan perusahaan ingin meningkatkan;

P (harga) sebesar 5%

Pengeluaran iklan sebesar 12%

Pendapatan meningkat 4%

Harga produk pesaing 7%

Harga produk pelengkap menurun 8%

Tingkat Penjualan sebesar 2 juta dengan nilai elastisitas yang telah dihitung di atas

Perusahaan tersebut dapat menentukan penjulan di tahun depan (Q’c) sebesar:

Q’c = Qc + Qc (^ Px/Px)Ep + Qc (^I/I) Ei + Qc (^Py/Py) Ecy

+ Qc (^Ps/Ps)Ecs + Qc (^A/A) Ea

= 2 + 2 (5%) (-3) +2 (4%) (1) +2 (7%)(1,8) + 2(-8%) (-0,15) + 2 (12%) (0,6) = 2,2 atau 2.200.000 juta produk c

Tiga unsur penting dalam pembuatan keputusan yang minimal harus ada adalah data yang memadai, model keputusan / prosedur keputusan dan pembuatan keputusan. Proses pengambilan keputusan rasional meliputi empat tahap yaitu:

  1. Selidiki Situasi

Suatu kegiatan yang menyeluruh untuk menentukan masalah yang benar-benar dihadapi perusahaan, melakukan identifikasi sasaran agar pemecahan masalah dapat lebih efektif , dan diagnosis penyebab.

  1. Kembangkan Alternatif

Sebelum keputusan penting diambil sebaiknya cari dan kembangkan alternatif yang kreatif dan jangan terburu-buru.

  1. Mengevaluasi Alternatif

Alternatif yang telah dipilih harus merupakan pilihan yang terbaik, sehingga harus dievaluasi dengan tiga pertanyaan kunci, apakah mungkin, apakah memuaskan, dan konsekuensi logisnya.

  1. Laksanakan Keputusan.

Rencanakan pelaksanaan keputusan dengan memperhatikan masalah-masalah yang timbul saat melaksanakan alternatif yang telah dipilih. Serta lakukan pemantauan pelaksanaan dan adakan penyesuaian jika diperlukan.

III. ANALISA PEMBAHASAN MASALAH

PT.SICPA Purindo dalam menjalankan transaksi bisnisnya di Indonesia di dominasi penggunaan mata uang asing khusunya dalam USD Dollar yang kemudian dalam beberapa bagian dilakukan penukaran dalam bentuk nilai mata uang Rupiah. Bisnis utama adalah memproduksi dan menjual ’security ink’ pada perusahaan pemerintah dan pihak swasta. ’Security Ink’ diproduksi dengan bahan impor langsung dari negara asalnya Swiss dan dalam pengawasan kualitas produksi (quality control) oleh SICPA Group Internasional.

Data informasi yang diperoleh dari PT.SICPA Purindo berupa financial statement yaitu laporan rugi-laba perusahaan dan neraca tahun 2003 dan 2004 yang dikeluarkan oleh akuntan publik Haryanto Sahari & Rekan member Price Waterhouse Coopers.

III.1. Data Penjualan, Biaya Operasional dan Keuntungan

Data informasi yang diperoleh dari PT.SICPA Purindo secara global berdasar financial statement mencerminkan total asset, equity, hasil penjualan, biaya-biaya operasional sertta income atau keuntungan pendapatan sebelum pajak dan setelah pajak dalam kurun waktu atau periode tahunan yaitu tahun 2003 dan 2004. Berikut adalah tabel data informasi financial statement PT.SICPA Purindo tahun 2003 dan 2004.

Tabel 1. Balance Sheets at 31 December 2004 and 2003 in Thousand Rupiah.

DESCRIPTION 31 December 2004 31 December 2003
Current Assets 64.473.124 76.678.695
Non-Current Assets 10.736.814 7.693.049
Total Current Assets 75.209.938 84.371.744
Current Liabilities 18.309.496 21.277.666
Non-Current Liabilities 335.493 524.346
Total Liabilities 18.644.989 21.802.012
Total Equity 56.564.949 62.569.732
Net sales 201.444.520 197.041.817
Cost of Goods Sold (164.378.353) (149.956.978)
Gross Profit 37.066.167 47.084.850
Operating Expenses (15.331.189) (15.338.599)
Foreign Exchange (Loss)/Gain (203.667) 1.565.611
Income before Tax 23.916.748 32.759.405
Net Income 16.235.409 22.240.192

Berdasarkan data-data informasi dari financial statement pada tabel 1 di atas, terjadi penurunan income atau keuntungan pendapatan pada periode tahun 2004 dibandingkan dengan periode tahun 2003.

III.2. Analisa Penerapan Teori Permintaan, Estimasi, Forcasting Terhadap Hasil Keuntungan Pendapatan Dari Hasil Penjualan Produk PT.SICPA Purindo, Tahun 2003, 2004 Dan 2005.

Berdasarkan data-data informasi dari financial statement pada tabel 1 di atas, terjadi penurunan income atau keuntungan pendapatan pada periode tahun 2004 dibandingkan dengan periode tahun 2003. Penurunan nilai keuntungan bersih perusahaan ini sebesar Rp.6.004.783.000,- atau turun sebesar 27 % dibandingkan pendapataan di periode tahun 2003. Penyebab terjadinya penurunan hasil pendapatan keuntungan antara lain karena adanya turunnya nilai total curent assets yang dimiliki perusahaan, sebesar Rp.9.161.806.000,- atau turun sebesar 10,86 % dibandingkan periode sebelumnya di tahun 2003. Pengaruh penurunan keuntungan pendapatan juga disebabkan adanya penurunan nilai total Liabilities sebesar Rp.2.968.170.000,- atau turun sebesar 14% dibandingkan periode sebelumnya tahun 2003.

Dalam analisa data financial statement pada tabel 1 di atas sebenarnya perusahaan ini mengalami hasil penjualan yang meningkat di tahun 2004 dibandingkan pada hasil penjualan tahun 2003 yaitu sebesar Rp. keuntungan pendapatan perusahaan juga disebabkan adanya peningkatan biaya produksi barang dan biaya operasional periode tahun 2004 dibandingkan periode tahun 2003. Nilai hasil penjualan ini terjadi penurunan sebesar Rp.4.402.703.000,- atau naik sebesar 2,23 % dibandingkan tahun 2003. Namun karena biaya operasional yang juga meningkat maka keuntungan pendapatan perusahaan mengalami penurunan. Biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan dalam tahun 2004 sebesar Rp.164.378.353.000,- dibandingkan pada tahun 2003 sebesar Rp.149.956.967.000,- yaitu meningkat sebesar Rp. 14.421.386.000,- atau naik sebesar 8.77 % dibandingkan biaya produksi tahun 2003.

Berdasar analisa terhadap pengaruh teori permintaan terhadap nilai hasil penjualan tahun 2004 dibandingkan tahun sebelumnya 2003, terjadi peningkatan atau permintaan terhadap produk yang dijual oleh perusahaan. Namun kenaikan permintaan terhadap barang yang dijual tidak terlalu besar yaitu hanya sebesar 2,23 %. Pengaruh lainnya yang menjadi penyebab menurunnya pendapatan keuntungan di tahun 2004 adalah besarnya biaya produksi barang sebesar 8,77 % dari biaya produksi tahun 2003. Sedangkan biaya operasional relatif tidak mempengaruhi karena biaya operasional yang dikeluarkan pada tahun 2004 relatif sama dengan tahun 2003 yaitu sebesar 15,3 milyar rupiah.

Memperhitungkan nilai permintaan produk di tahun 2004 dibandingkan tahun 2003 tidaklah terlalu signifikan karena hanya naik sebesar 2,23 % sehingga hasil penjualan produk juga tidak terlalu besar peningkatnnya. Oleh karena itu pada penerapan teori permintaan dan teori produksi disini berbanding terbalik karena justru biaya produksinya yang meningkat sehingga nilai keuntungan pendapatan perusahaan di tahun 2004 mengalami penurunan. Penyebab naiknya biaya produksi di prediksi disebabkan karena adanya perubahan nilai kurs mata uang asing USD Dollar terhadap nilai mata uang Rupiah yang oleh perusahaan dipergunakan untuk pembelian bahan baku impor atau raw material.

Analisa forcasting atau peramalan satu tahun kedepan yaitu di tahun 2005 dengan dasar hitung dan alaisa perbandingan peningkatan hasil penjualan, permintaan produk dan biaya produksi barang dapat diperkirakan dengan asumsi terjadi peningkatan yang juga tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 4 % nilai permintaan atau hasil penjualan di tahun 2004. Sedangkan biaya produksi terjadi kenaikan dengan asumsi naik sebesar 8,77% + 2,33% = 10 % dari tahun 2004, maka akan didapatkan nilai hasil penjualan dan biaya produksi tahun 2005 sebagai berikut :

  1. Perkiraan kenaikan 4 % dari hasil penjualan pada tahun 2004, maka dengan perkiraan terjadi kenaikan yang juga tidak terlalu signifikan yaitu hanya sebesar 4 % dari nilai penjualan tahun 2004 akan didapatkan data forcasting hasil penjualan adalah sebesar :

- Peningkatan Penjualan : 4 % x Rp. 201.444.520.000,- = Rp.8.057.780.800,-

- Penjualan bersih 2005 : Rp.201.444.520.000,- + Rp.8.057.780.800,- =

Rp. 209.502.300.800,-.

  1. Terhadap biaya produksi barang dengan asumsi peningkatan estimasi yang juga tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 2,33 % dari nilai prosentasi kenaikan biaya produksi tahun 2004 dibanding tahun 2003, maka didapat perkiraan naik sebesar 10 % dari data biaya produksi pada tahun 2004, akan didapatkan data forcasting estimasi biaya produksi tahun 2005 adalah sebesar:

- Peningkatan Biaya Produksi : 10% x Rp.164.378.353.000,- = Rp.16.437.835.300,-.

- Biaya Produksi 2005 : Rp.164.378.353.000,- + Rp.16.437.835.300,-=

Rp. 180.816.188.300,-.

  1. Terhadap biaya operasional yang diasumsikan terjadi kenaikan sebesar 5 % dibandingkan tahun 2004 akibat adanya kenaikan harga bahan bakar minyak dan listrik serta gaji pegawai dan barang-barang penunjang lainnya serta nilai tukar uang rupiah rupiah terhadap USD Dollar, maka didapatkan estimasi biaya operasional pada tahun 2005 adalah sebesar :

- Peningkatan Biaya Operasional : 5% x Rp.15.331.189.000,- = Rp.766.559.450,-.

- Biaya Operasioanl 2005 : Rp.15.331.189.000,- + Rp.766.559.450,- =

Rp.16.097.748.450,-.

  1. Berdasarkan asumsi estimasi dan forcasting nilai penjualan dan biaya produksi tahun 2005 tersebut diatas serta biaya operasional yang meningkat akibat adanya kenaikan harga bahan bakar minyak dan listrik serta gaji pegawai dan barang-barang penunjang lainnya serta nilai tukar uang rupiah terhadap USD Dollar pada tahun 2004 dan 2005, maka akan didapatkan Nilai Keuntungan Pendapatan Kotor (Gross Profit) di tahun 2005 adalah sebesar Nilai hasil penjualan dikurangi biaya produksi yaitu sebesar :

Rp. 209.502.300.800,-. - Rp. 180.816.188.300,- = Rp.28.686.112.500,-

  1. Sedangkan Nilai Keuntungan Pendapatan sebelum Pajak (Income before Tax) di tahun 2005 sebesar Gross Profit dikurangi Biaya Operasional yaitu sebesar

Rp.28.686.112.500,- - Rp.16.097.748.450,- = Rp.12.588.364.050,-.

Dengan asumsi dan estimasi serta perkiraan forcasting yang dihiting atas dasar data informasi finacial statement tahun 2003 dan 2004 dapat pula diperhitungkan perkiraan tahun 2005 untuk nilai-nilai dan biaya-biaya seperti Net sales, Cost of Goods Sold, Gross Profit, Operating Expenses dan Income before Tax dengan asumsi perkiraaan atau estimasi biaya produksi dan operasional yang dikeluarkan berdasarkan tabel 2 berikut :

Tabel 2. Asumsi Kenaikan Tahun 2005 Terhadap Data Nilai Tahun 2004:

DESCRIPTION ASUMSI KENAIKAN

Dalam (%) Tahun 2005

Current Assets NA
Non-Current Assets NA
Total Current Assets NA
Current Liabilities NA
Non-Current Liabilities NA
Total Liabilities NA
Total Equity NA
Net sales 4
Cost of Goods Sold 10
Gross Profit Analyzed
Operating Expenses 5
Other Income 10
Income before Tax Analyzed
Net Income NA

Note : NA = Not Analyzed

Berdasar asumsi perkiraan atau forcasting tahun 2005 pada tabel 2 tersebut diatas, dan perhitungan perbandingan kenaikan hasil penjualan, biaya produksi dan biaya operasional tahun 2004 dibanding tahun 2003, maka akan didapatkan Nilai Hasil Keuntungan Penjualan, Biaya Produksi dan Biaya Operasional di tahun 2005 sebagaimana pada tabel 3 berikut ini :

Tabel 3. Perkiraan, Estimasi, Forcasting Hasil Penjualan, Biaya Produksi

Biaya Operasional Tahun 2005.

DESCRIPTION 31 Dec. 2005 31 Dec. 2004 31 Dec. 2003
Current Assets NA 64.473.124 76.678.695
Non-Current Assets NA 10.736.814 7.693.049
Total Current Assets NA 75.209.938 84.371.744
Current Liabilities NA 18.309.496 21.277.666
Non-Current Liabilities NA 335.493 524.346
Total Liabilities NA 18.644.989 21.802.012
Total Equity NA 56.564.949 62.569.732
Net sales 209.502.300,80 201.444.520 197.041.817
Cost of Goods Sold 180.816.188,30 164.378.353 149.956.978
Gross Profit 28.686.112,50 37.066.167 47.084.850
Operating Expenses 16.097.748,45 15.331.189 15.338.599
Operating Income 12.588.364,05 21.734,978 31.746.251
Other Income 2.399.947 2.181.770 1.013.154
Income before Tax 14.988.311,05 23.916.748 32.759.405
Net Income NA 16.235.409 22.240.192

Note : NA = Not Analyzed

Analisa dalam pembahasan masalah dalam makalah ini hanya dihubungkan dengan teori permintaan, estimasi dan forcasting satu tahun kedepan yaitu di tahun 2005 dan pembahasan financial statement di tahun 2004 sebagai dasar hitung dengan perbandingan data tahun 2003 untuk data hasil penjualan, biaya produksi dan hasil keuntungan pendapatan, hal ini karena disamping tidak mendapatkan data jumlah barang atau produk yang dijual dalam tahun 2003 dan 2004 juga biaya per satuan produk. Sedangkan analisa peningkatan dan atau penurunan Total Assets dan Liabilities serta Equity tidak dianalisa.

Sedangkan Nilai Pendapatan Bersih tidak dianalisa karena asumsi penurunan dan kenaikan pajak tidak dianalisa, sehingga hasil analisa akhir adalah Nilai Keuntungan Pendapatan sebelum pajak baik di tahun 2004 maupun di tahun 2005 sesuai perhitungan forcasting, estimasi dan permintaan satu tahun kedepan.

Berdasarkan hasil asumsi perkiraan atau forcasting di tahun 2005 terhadap Hasil Penjualan Bersih, Biaya Produksi dan Biaya Operasional, serta peningkatan 10% terhadap nilai Others Income dibanding tahun 2004 menjadi sebeesar Rp.2.399.947.000,-maka didapatkan Hasil Pendapatan Keuntungan berkurang menjadi sebesar Rp.12.588.364050,- + Rp.2.399.947.000 = Rp.14.988.311.050,-, walaupun Nilai Penjualan meningkat. Pada tahun 2005 terjadi penurunan pendapatan dibandingkan data tahun 2004 sebesar Rp.23.916.748.000,- atau turun sebesar Rp.8.928.436.950,- atau turun sebesar 37,33% dibandingkan hasil pendapatan pada data tahun 2004. Hal ini disebabkan karena kenaikan biaya produksi dan biaya operasional akibat adanya kenaikan harga bahan bakar minyak dan listrik serta gaji pegawai dan barang-barang penunjang lainnya serta nilai tukar uang rupiah terhadap USD Dollar pada tahun 2004 dan 2005 dengan dasar hitung asumsi pada tabel 2 tersebut diatas.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil tinjauan dan analisa terhadap data informasi financial statement PT.SICPA Purindo Indonesia, dapat disimpulkan dan disarankan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih optimal di tahun 2005 sebagai berikut :

IV.1. Kesimpulan

Beberapa kesimpulan berdasarkan hasil kajian, tinjauan dan analisa terhadap pengaruh teori permintaan terhadap Nilai Penjualan, Biaya Produksi dan Biaya Operasional dari data financial statement tahun 2003, 2004 dan perkiraan 2005 PT.SICPA Purindo Indonesia dapat disimpulkan antara lain sebagai berikut :

  1. Permintaan terhadap produk barang yang diproduksi dan dijual pada tahun 2004 tidak terlalu signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2003, sehingga Nilai Penjualan (Net Sales) hanya meningkat sebesar 2,23 % dibandingkan dengan Nilai Penjualan pada tahun 2003.
  2. Penurunan Nilai keuntungan pada tahun 2004 disebabkan adanya peningkatan Biaya Produksi sebesar 8,77 % dari Biaya Produksi pada tahun 2003, hal ini kemungkinan disebabkan adanya perubahan nilai tukar mata uang asing USD Dolar terhadap mata uang Rupiah yang naik sebesar Rp.260,- berdasarkan data dari kurs tengah rata-rata Bank Indonesia yaitu pada tahun 2003 sebesar 1 USD = Rp.8.940,- dan pada tahun 2004 1 USD = Rp.9.200,-. Peningkatan biaya produksi dikaitkan dengan perubahan kurs USD Dolar karena pembelian raw material impor.
  3. Perkiraan atau forcasting dan estimasi pada tahun 2005 yang di asumsikan dengan kenaikan permintaan produk dan nilai penjualan sebesar 4% dibandingkan dengan tahun 2004 dan peningkatan biaya produksi sebesar 2,33% sehingga naik 10% dibandingkan dengan tahun 2004 serta adanya peningkatan biaya operasional sebesar 5% serta other income juga naik sebesar 10% dibandingkan data tahun 2004, maka didapatkan hasil perkiraan keuntungan sebelum pajak dengan nilai sebesar Rp.8.928.436.950,- atau turun sebesar 37,33 % dibandingkan tahun 2004.

IV.2. Saran

Berdasarkan asumsi dan perkiraan dalam analisa permintaan, estimasi dan atau forcasting, pada tahun 2005 PT.SICPA Purindo Indonesia diharapkan melakukan perluasan pemasaran untuk meningkatkan permintaan produk sehingga meningkatkan produksi dan harus mengurangi biaya operasioanl serta melakukan pengelolaan mata uang asing USD Dollar secara baik agar cash flow keuangan menjadi leboh baik. Untuk itu pada PT.SICPA Purindo Indonesia dapat disarankan antara lain :

  1. Meningkatkan Permintaan terhadap produk barang yang diproduksi hingga diatas 5% dalam tahun 2005 demikian pula pada tahun tahun kedepan.
  2. Untuk meningkatkan permintaan terhadap produk barang ’security ink’ agar PT.SICPA Purindo Indonesia melakukan pemasaran yang lebih luas bila perlu dalam jangka panjang membuaka cabang di lokasi lain di kota-kota besar di Indonesia untuk meningkatkan pemasaran dan meningkatkan permintaan pasar terhadap produknya.
  3. Mengurangi biaya produksi dengan menekan biaya dibawah 10% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
  4. Mengelola cash flow dalam bentuk mata uang asing USD Dollar dengan lebih baik mengingat adanya ketidakstabilan nilai tukar USD Dollar terhadap nilai mata uang rupiah.

1 Comments:

At 12/02/2008, Blogger Sakurako said...

thanks a lot
tessekur ederim
matur nuwun
gracias
arigato gozaimasu
xie-xie
merci
terimakasih

 

Post a Comment

<< Home